Menjelajahi Surga dan Neraka Kaum Intelektual

0
http://lpmkeadilan.org/wp-content/uploads/2019/11/Ilustrasi.jpg

“Dan kau tahu sebuah buku tidak akan pernah lelah bercerita, dan ia akan terus bercerita sepanjang zaman, lalu kenapa kau memendam ilmumu di batok kepalamu? Akh! Percuma kepalamu botak, rambutmu memutih, mulutmu berbusa-busa di seminar kalau kau tidak menulis buku.” – (hlm. 66-67)

Judul Buku      : Pada Sebuah Perpustakaan di Surga

Penulis             : Dul Abdul Rahman

Tahun Terbit    : 2017

Penerbit           : Ombak (Anggota IKAPI)

Tebal               : 290 halaman

Apa yang terbayang di benak kita saat memikirkan surga? Apakah sebuah tempat tak terbatas dengan segala keindahan berbalut kesejukan dan kehangatan di dalamnya? Apa pula yang kita tafsirkan saat mendengar kata neraka? Benarkah ruang di mana segala tindak kejahatan mendapatkan imbalannya? Atau sebenarnya surga dan neraka tidaklah sesempit imajinasi liarmu sekalipun?

Tokoh utama dalam Pada Sebuah Perpustakaan di Surga disebut sebagai Professor Gila. Sebenarnya ia bukanlah seorang yang gila secara psikis, melainkan hanya obsesif terhadap ilmu pengetahuan. Di antara semua tingkah lakunya, hal paling gila yang ia lakukan adalah tidak pernah sekalipun mau menyelesaikan pendidikan sarjananya.  Terlebih selama proses studi yang tidak pernah berakhir, ia kerap mendebat dan menyuruh dosennya untuk lebih banyak membaca buku. Alhasil, tak satu pun dosen yang berkenan mengajarinya.

Professor Gila adalah seorang laki-laki penganut aliran kebatinan Kematian Keempat. Ajaran ini dikabarkan dapat membuat penganutnya menyatukan dunia tengah dan bawah. Artinya demi penyatuan itu, manusia yang terpilih mengikhlaskan tubuh dan rohnya seakan-akan menjadi gila untuk ‘dimasuki’ roh orang-orang berilmu dan saleh. Itulah sebabnya Professor Gila yang sering kerasukan kerap bertingkah seperti tokoh-tokoh hebat seperti Socrates, Plato, atau idolanya Karaeng Pattingalloang.

Bukan asal mengidolakan, Karaeng Pattingalloang merupakan intelektual dari Kerajaan Tallo. Ia juga dikenal sebagai “Tokoh Renaissance dari Timur”, dan seorang poliglot yang hidup pada abad ke-17. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya tidak pernah puas dalam belajar. Karaeng Pattingalloang memiliki perpustakaan luar biasa dengan koleksi ribuan buku, atlas Eropa, bola dunia ukuran besar, dan bahkan teropong yang dipesan dari Eropa. Sosoknya juga dijuluki Sang Priagung dan baru saja memperoleh penghargaan tertinggi kepahlawanan bernama Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo, di Istana Negara pada 15 Agustus 2019. Terinspirasi dari Perpustakaan Karaeng Pattingalloang inilah Professor Gila memulai petualangan menjelajahi surga dan neraka ala pecinta literasi.

Ulasan ini tidak akan menceritakan seluruh petualangan Professor Gila menjelajahi setiap tempat di surga dan neraka. Tidak pula saat ia mengagumi karya sastra terpanjang di dunia, La Galigo, dari tanah Bugis yang kedua belas jilid salinan asli tulisannya disimpan di Universitas Leiden. Melainkan tentang sepercik perenungan Professor Gila mengenai pentingnya budaya literasi.

Bagaimana? Sudah mendapatkan gambaran surga dan neraka dari perspektif Professor Gila? Agaknya perkataan dari Jose Luis Borges dapat menggambarkan ide tentang surga dan neraka yang dimaksud. “Aku membayangkan bahwa surga itu merupakan sebuah perkampungan sederhana yang di tengahnya terdapat perpustakaan besar dan berisi buku-buku dari berbagai zaman dan bangsa”.

Begitu pula tirakat Professor Gila yang membuatnya berkeliling surga. Di dalamnya terdapat Perpustakaan Karaeng Pattingalloang yang terdiri dari tujuh lantai. Lantai pertama perpustakaan ini khusus menyimpan buku-buku sains dan teknologi, berbeda dengan di lantai teratas yang memuat berbagai hasil pencapaian ilmu pengetahuan. Sedangkan lantai dua hingga enam berisi beragam koleksi yang umumnya didominasi buku filsafat dan sastra.

Terdapat satu pertanyaan menarik dalam buku ini terkait Perpustakaan Karaeng Pattingalloang. “Mengapa antara buku-buku pengetahuan sains dan hasil-hasil iptek harus diapit oleh buku religi, filsafat, dan sastra?” Jawabannya menurut ‘Sokrates’ bukan ‘Socrates’ ialah, “Karena menguasai sains tanpa membaca buku sastra, dan filsafat, maka orang-orang akan kehilangan rasa kemanusiaannya. Yang muncul hanyalah rasa kebinatangannya, memangsa sesamanya….”

Kecintaan Professor Gila terhadap literasi membuatnya geram pada keadaan di Indonesia. Bagaimana tidak, saat pengunjung dari Eropa, Jepang, Korea, dan Cina berebut giliran membaca buku di perpustakaan, orang Indonesia yang syukur ada dua, malah selalu mempersilakan barisan belakangnya untuk maju. Mulanya, Professor Gila mengira kedua orang Indonesia itu menemukan teknik membaca buku dengan mudah. Tetapi bukannya mengambil buku di atas rak, orang Indonesia hanya duduk di belakang pengunjung dari Jepang dan tanpa malu menyalin catatan mereka. “Tahi kucing, menyontek terus dari Jepang!”

Selain surga bagi para penggiat literasi, bagaimana suasana neraka yang kelak akan diletakkan di bawah setiap universitas di seluruh dunia? Sama seperti Perpustakaan Karaeng Pattingalloang, Neraka Universitas juga terdiri dari tujuh lantai.

Sebelum membahas lebih jauh, alangkah baiknya kita berdoa agar tak termasuk dalam golongan penghuni neraka itu. Karena Neraka Universitas khusus diperuntukkan bagi kaum intelektual yang tidak bertanggung jawab secara moral atas pengetahuannya. Mahasiswa, dosen, atau siapa pun yang menikmati ilmu tapi enggan menggunakan daya kritisnya dan membawa wajah diam saat melihat ketidakadilan, maka Neraka Universitas-lah tempatnya.

Professor Gila juga terancam menjadi penghuni Neraka Universitas apabila ia mengkhianati janji intelektualnya. Tapi ia menenangkan diri, karena bila diadakan pemilihan mahasiswa yang paling banyak berada di perpustakaan pusat atau banyak membaca buku, tentulah Professor Gila pemenangnya. Apalagi jika bersaing dengan rakyat Indonesia, yang menurut UNESCO (2012) pembaca bukunya hanya 1 dari 1000 orang, ataupun peringkat kedua dari bawah dalam hasil riset literasi Central Connecticut State University (2016).

Sepertinya bukan krisis ekonomilah tolok ukur kemalangan sebuah bangsa, melainkan krisis literasi yang lebih dulu memulai genderang perang. Yah, mungkin ada benarnya aforisme Tan Malaka, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Ulasan ini tidak akan menceritakan seluruh petualangan Professor Gila menjelajahi setiap lantai dari Perpustakaan Karaeng Pattingalloang. Tidak pula saat ia mengagumi karya sastra terpanjang di dunia, La Galigo, dari tanah Bugis yang kedua belas jilid salinan asli tulisannya disimpan di Universitas Leiden.

Melainkan Dul Abdul Rahman menggambarkan keadaan surga dan neraka dengan imajinatif dalam buku ini. Banyaknya tokoh-tokoh besar yang berjasa dalam perkembangan literasi disebutkan secara jeli di novel ini. Secara keseluruhan novel ini perlu dibaca oleh kaum yang merasa dirinya orang terdidik dan terpelajar. Membaca novel ini akan mengajak pemikiran kita menjelajahi dunia, dan setidaknya menuju pada kesimpulan bahwa belajar itu teramat menyenangkan. Sekali lagi, novel ini pantas mendaratkan fisiknya dalam ruang-ruang berdebu di sebelah ragam bukumu.

Penggambaran neraka seakan menjadi ‘bab sisa’ karena terasa ditulis terburu-buru untuk lekas mengakhiri novel. Padahal, Bab Neraka Universitas seharusnya merupakan penutup krusial agar pesan penulis semakin menginternalisasi dalam pemikiran pembaca. Sehingga kemudian diharapkan tercipta para pembaca yang turut bertindak dalam dunia literasi sesuai kemampuan masing-masing. Meski begitu tetap saja Bab Neraka Universitas ini sudah dirasa cukup ‘menampol’ para pembaca untuk menyadari bahwa tindakan sekecil apa pun tetap dibutuhkan demi kemajuan bangsa.

Terakhir, mari kita menengok Professor Gila yang sedang menggumam menahan kengeriannya, melihat para wisudawan dengan wajah sumringah dan toga di atas kepala mereka. Hingga senyuman mereka hilang, tatkala aula berubah menjadi tempat penentuan dengan api membara di bawah tapaknya. “Begitulah, dalam ajaran Kematian Keempat, pantang orang disebut kaum intelektual sebelum menulis buku. Buku adalah simbol keintelektualan. Tanpa menulis buku, percuma orang jadi sarjana, apalagi master, lebih-lebih doktor.”

“Para wisudawan, duduklah dan menulislah sekarang juga!”

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here