Bersembunyi di Balik Nama Tuhan

0
http://lpmkeadilan.org/wp-content/uploads/2017/11/ilustrasi-fix-1.jpg

Film                 : Spotlight

Sutradara         : Tom McCarthy

Genre              : Drama

Durasi              : 129 menit

“Aku melakukan hubungan seks, tapi aku tak pernah merasa puas. Aku tidak pernah mendapat kepuasan dari mereka. Itu penting untuk dipahami,” tutur Pasteur Paquin.

Spotlight adalah film bergenre drama yang mengisahkan tentang sekelompok jurnalis dari sebuah koran The Boston Globe. Mereka mencari dan memecahkan kasus yang belum mempunyai kejelasan, dan menjadi menarik ketika kasus tersebut menyangkut kalangan gereja.

Spotlight merupakan film yang diangkat dari kisah nyata tentang kasus manipulasi yang terjadi di tingkat kepolisian. Kasus itu terjadi di Boston, Massachussets, tahun 1976. Berawal ketika seorang pastur yang membantu permasalahan keluarga, yaitu seorang ibu yang mempunyai empat orang anak, yang sudah ditinggal cerai suaminya.

Wartawan The Boston Globe menuntut dokumen kasus pelecahan dibuka untuk umum setelah sekian lama kasus tersebut terpendam, dengan dasar Amandemen Pertama Undang-Undang. The Boston Globe berusaha menceritakan yang sebenarnya dengan alasan peduli. Karena pada awal tahun 1980-an, ada keluarga yang tujuh anak laki-lakinya dicabuli, kemudian oleh pasturnya disarankan untuk tetap diam, tanpa mempertanyakan kewenangan gereja.

Usaha demi usaha dilakukan wartawan The Boston Globe untuk mengungkap kasus pelecehan yang dilakukan oleh pastur. Bertahun-tahun kasus itu tidak transparan dan tidak dipublikasikan ke khalayak umum. Karena memang di sebuah negara yang mayoritas beragama Katolik, pastur adalah jembatan dalam mendapat karunia dan rahmat dari Tuhannya. Maka gereja tidak mau pasturnya yang terseret kasus pelecehan terekspos ke publik. Gereja melakukan manipulasi sistem, sehingga pastur tidak akan menghadapi dakwaan. Gereja tidak mau dokumen tentang kasus pelecehan itu ditemukan media. Kemudian gereja Katolik memindahkan dokumen hukum tersebut dari pengadilan. Gereja mengontrol semua kasus pelecehan tersebut.

Wartawan The Boston Globe memperlihatkan bagaimana sistem kerja kolektif, kerja sama yang sangat bagus, walaupun ada satu adegan yang memperlihatkan anggota The Boston Globe, yaitu Mike, yang memaksa dengan segera untuk mempublikasikan kasus pelecehan yang dilakukan pastur. Karena telah ditemukannya beberapa korban yang mulai terbuka tentang apa yang dialaminya semasa kecil, terkait pelecehan tersebut. Namun, pemimpin The Boston Globe tidak menuruti Mike, karena menganggap akan menyebabkan kericuhan, dan tidak akan menimbulkan perubahan apapun, karena kurangnya informasi yang didapat. Pemimpin The Boston Globe menyarankan jangan fokus terhadap pastur yang melakukan pelecehan seksual, tetapi harus fokus kepada institusi yang memanipulasi kasus pelecehan, tentang kebiasaan dan kebijakannya.

Pencarian informasi yang dilakukan oleh wartawan The Boston Globe dalam film ini tergambarkan dengan jelas, walaupun memang film tersebut bertemakan tentang jurnalisme. Mencari sebuah fakta dalam suatu kasus sangatlah berat. Dalam film ini memperlihatkan adanya kendala dalam mencari fakta dan informasi yang berkaitan dengan kasus pelecehan yang dilakukan oleh pastur. Misalnya dalam sesi wawancara, mendapat penolakan dari orang yang berhubungan langsung dengan narasumber, karena ketakuan akan menimbulkan efek buruk dan tercemarnya keluarga tersebut. Hal itu terjadi ketika anggota The Boston Globe mewawancarai salah satu pastur yang melakukan pelecehan seksual.

Tidak sedikit yang menerima dengan terbuka atas orang-orang yang mengalami, melakukan, serta yang menangani kasus pelecehan seksual. Hal itu dapat dilihat ketika banyak korban yang mulai terbuka atas kasus pelecehan yang dialaminya semasa kecil. Kemudian mewawancarai pelaku pastur untuk meminta keterangan yang lebih jelas terkait pelecehan yang dilakukannya, Pengacara, Jaksa, Polisi serta Hakimnya yang menangani kasus tersebut. Sungguh pencarian fakta yang diharapkan agar pembuktian dengan jelas dan transparan, tanpa adanya informasi yang masih ditutup-tutupi.

Penggalian informasi dan fakta-fakta untuk membuktikan kejelasan tentang kasus pelecehan seksual terselingi oleh peristiwa yang terjadi di pusat kota New York. Pada saat itu, tahun 2001, ketika The Boston Globe sedang sibuk-sibuknya mencari fakta dalam mengungkap kasus pelecehan, dua gedung World Trade Center (WTC) ditabrak oleh pesawat, yang menyebabkan dua gedung tersebut hancur. Hal ini memaksa wartawan The Boston Globe mengalihkan sementara penanganan kasus pelecehan yang dilakukan pastur. Karena harus memberitakan peristiwa terbaru, agar bisa memberikan informasi dan memberikan dampak antisipasi terhadap peristiwa runtuhnya gedung WTC. Hal itu dilakukan karena tujuan jurnalisme itu sendiri. Akan tetapi, berita terbaru jangan sampai mengalihkan kasus yang sedang dipecahkan permasalahannya.

Setelah menghabiskan waktu yang tidak cukup lama, koran The Boston Globe akhirnya dapat memecahkan kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastur dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Kemudian sepanjang tahun 2002, tim Spotlight dari The BostonGlobe mempublikasikan hampir 600 kisah tentang skandal pelecehan. Jumlah 249 pastur dan biarawan didakwa di depan umum atas pelecehan seksual di keuskupan Boston. Jumlah korban selamat di Boston diperkirakan lebih dari 1.000 orang.

Bercermin dari kisah yang diangkat dalam film Spotlight. Penulis berharap penerapan dan semangat tim The Boston Globe dalam memecahkan kasus yang sekian lama terpendam dan belum transparan dapat dilakukan. Karena di Indonesia sendiri banyak kasus yang belum terpecahkan. Misalnya dalam kasus pemerkosaan, kasus ini adalah kasus getir dan pahit dari seorang gadis muda bernama Sumarijem (Sum Kuning), seorang gadis muda dari kelas bawah seorang penjual telur dari Godean Yogyakarta yang diperkosa oleh segerombolan anak pejabat dan orang terpandang di kota Yogyakarta kala itu. Sampai sekarang belum menemukan kejelasan atas kasus tersebut. Kemudian kasus kematian aktivis HAM, Munir pada tahun 2004. Kasus Penembak Misterius (Petrus) dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat dengan membunuh orang-orang yang dianggap meresahkan warga masyarakat. Namun tidak sesuai dengan hukum yang diterapkan di Indonesia.

Terlepas dari uraian, kelebihan, manfaat dan kaitannya dengan keadaan di Indonesia saat ini, film ini mempunyai kelemahan. Salah satunya adalah cara menyajikan dialog yang terlalu monoton. Penggambaran hasil pemecahan masalah tidak ditayangkan. Misalnya, dampak atau efek dari terungkapnya kasus pelecehan tidak disertakan dalam film tersebut. Hanya tergambarkan dalam teks diakhir film Spotlight.

Meskipun begitu, film ini memberikan pengetahun tentang bagaimana mempraktikan sebuah wawancara. Untuk mendapatkan informasi, bagaimana menggali sebuah kasus dengan sangat rinci dan detail. Koordinasi dalam menjalankan tugas yang hanya dibatasi waktu tidak cukup lama untuk pemecahan sebuah kasus dapat tergambarkan dengan  jelas dalam film ini.

Harapan dalam pemaknaan film ini adalah pengungkapan kasus dan keberanian jurnalis dalam memecahkan sebuah kasus yang berkaitan dengan pihak yang dianggap berpengaruh dalam suatu negara. Agar tidak ada lagi pihak-pihak yang dirugikan. Film ini sangat bagus untuk merefleksi dan menyadarkan kita, tentang sebuah permasalahan yang pastinya ada sebab akibatnya yang harus dipahami.

*Penulis adalah kader magang LPM Keadilan 2015/2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here