Membangun Kualitas Bangsa Melalui Budaya Literasi

0
esai

Oleh: Joko Arifin*

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku karena dengan buku aku bebas,” –Mohammad Hatta.

Pendahuluan

Globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi tuntutan zaman yang tidak dapat dihindari. Hal tersebut merupakan bentuk perubahan zaman yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Namun, generasi dahulu telah membuktikan kepada kita, bahwa walaupun dalam keadaan terbelenggu oleh keterbatasan media, tapi semangat militansi dan tunak dalam berliterasi tak pernah surut. Sehingga jejak karya agungnya (masterpiece) masih dapat kita nikmati dan pelajari hingga saat ini.

Seiring dengan perjalanan waktu ketika dunia memasuki zaman milenial saat masyarakat terjebak dalam lingkar masyarakat multimedia (cyber society). Akibatnya daya pengaruh cukup kuat terhadap perubahan perilaku sosial yang mendasar pada skala makro dalam kehidupan kita.

Tren sosial rupanya lebih mudah diterima dari pada nasihat orang tua yang terlanjur dianggap klasik di kalangan remaja. Tren sosial yang ditandai dengan era kecanggihan teknologi memang menjadi bumerang jika tidak bijak dalam menyikapinya.        Di era serba digital saat ini, yang menjadi daya tarik bagi anak-anak kita bukan lagi kegiatan literasi (baca tulis), namun gawai dan televisi.

Hasil survei tahun 2016 yang dilakukan US Agency For International Development (USAID) cukup mencengangkan. Rata-rata orang Indonesia menonton tayangan televisi selama 300 menit per hari (5 jam per hari), bandingkan dengan rata-rata negara maju, yang penduduknya hanya butuh waktu 60 menit (1 jam per hari). Di sisi lain, anak-anak yang dulu gemar membaca, kini lebih asik merunduk khusyuk bermain game dan aktif di dunia media sosial (medsos) melalui gawainya. Selain itu hasil survei yang dilakukan oleh United Nations Educational, Scientific And Cultural Organization (UNESCO) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10-15 buku dalam setahun (Republika, 29 April 2016).

Pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World, merilis Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Kondisi yang sama juga terjadi pada peringkat pendidikan Indonesia di dunia yang dari tahun ke tahun belum beranjak dari papan bawah dalam berbagai survei internasional. Akan tetapi, tidak ada diskusi panjang di media mengkritisi fenomena ini. Tidak ada dialog dengan mengundang berbagai pakar untuk membahasnya. Data itu hanya dibaca sebagai berita setengah menit yang berlalu begitu saja. Mungkinkah memang tidak ada yang peduli? Fenomena termarjinalkannya budaya literasi dari diskusi publik? jika masyarakat malas membaca mau jadi apa bangsa Indonesia di masa depan?

Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuan. Kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan diperoleh dari informasi lisan maupun tulisan. Namun, ironisnya jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun. (Sumber: Majalah Oase Edisi April 2014). Sebagai warga Indonesia, tentu hal ini sangat menyedihkan.

Budaya literasi sangat berperan dalam menciptakan masyarakat yang cerdas yang mana nantinya akan membentuk bangsa berkualitas. Oleh karena itu, sebuah kesalahan besar meminggirkan isu ini dari perbincangan publik, apalagi meninggalkannya dalam proses perumusan kebijakan publik.

Pembahasan

Secara sederhana literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun, sekarang ini literasi memiliki arti luas sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer, literasi media, literasi teknologi, literasi ekonomi, dan literasi informasi. Jadi keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melekteknologi, melek informasi, berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan.

Salah satu yang perlu diperhatikan secara khusus di zaman sekarang yaitu literasi media khususnya medsos. Apa itu medsos? Medsos merupakan salah satu sarana melakukan komunikasi antar manusia di zaman modern ini. Munculnya medsos memang berwajah ganda. Satu sisi media ini bisa meningkatkan hubungan pertemanan yang lebih erat, bisnis, dan beragam layanan jasa daring lainnya. Namun, pada wajahnya yang lain medsos juga sering menjadi pemicu munculnya beragam persoalan. Maraknya berita bohong, ujaran kebencian, hasutan, caci maki, dan adu domba telah mengancam persatuan dan ideologi bangsa.

Sungguh ironi, ketika era digital dengan segala tawaran potensialnya di gadang-gandang dapat mempermudah akses informasi dan bacaan malah berbalik arah menjadi darurat minat baca. Padahal minat baca adalah kunci utama dalam keberaksaraan.      Seperti pendapat Ratnasari (2011:16) yang mengatakan bahwa minat adalah suatu perhatian yang kuat terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Namun, pada kenyataannya minat baca saat ini telah pudar. Tergusur oleh tren gawai budaya instan yang berakibat fatal dapat menurunkan minat baca dalam berliterasi.

Banyak pengguna medsos yang tidak mampu memilah mana informasi yang benar dan mana pula yang palsu (hoax). Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya orang yang tergantung pada medsos. Mayoritas mereka tidak memahami bagaimana menggunakan medsos yang bijak. Sebagai dampak dari ketergantungan pada medsos adalah terjadinya penurunan literasi (the decline of literacy).

Salah satu hal yang serius dari akibat penggunaan medsos yang kurang bijak dapat menyebabkan penurunan kemampuan berbicara di muka publik. Dampak ini dapat saja terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia cenderung lebih suka bermain dengan medsos dari pada melakukan interaksi langsung antar sesama. Untuk itu penulis mengajak masyarakat Indonesia supaya bijak dalam menggunakan medsos melalui gerakan 4M, diantaranya yaitu;

  1. Menjaga privasi dan keamanan akun pengguna media. Hal ini dilakukan supaya tidak mudah memberikan informasi data diri pengguna media sosial ke orang lain dan membuat kata kunci (password) yang cukup sulit untuk ditebak serta mengubahnya secara berkala.
  2. Menghindari hoax. Hal ini dilakukan supaya tidak mudahnya percaya dengan berita atau informasi yang diterima sebelum dilakukan klarifikasi yang benar sesuai dengan fakta yang terjadi.
  3. Menyebarkan informasi positif. Hal ini dilakukan supaya pengguna menyebarkan informasi baik itu gambar, video, foto, maupun teks yang bersifat positif.
  4. Menggunakan media sosial seperlunya. Hal ini dilakukan supaya tetap menggunakan media sosial sebagai sarana membantu meningkatkan produktifitas diri dan sadar diri jika telah mengalami ketergantungan.

Sering kita bertanya dalam hati, mengapa negara kita susah bersaing dengan negara-negara lain? Apa ada yang salah dalam sistem berkehidupan rakyat kita? Padahal potensi bangsa Indonesia sangat besar. Namun, demikian potensi yang begitu besar secara kuantitas itu perlu diimbangi dengan kualitas yang dimiliki. Badan Program Pembangunan di bawah PBB, United Nations Development Programme (UNDP) dalam laporan Human Development Report 2016 mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 (www.cnnindonesia.com). Salah satu faktor penyebab rendahnya IPM di Indonesia adalah rendahnya kualitas pendidikan, yang juga berpengaruh langsung pada sektor ekonomi dan kesehatan.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh International Education Achievement (IEA) pada awal tahun 2000 menunjukkan bahwa kualitas membaca anak-anak Indonesia menduduki urutan ke 29 dari 31 negara yang diteliti di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika. Dengan demikian tidaklah mengherankan bila Indeks kualitas sumber daya manusia (Human Development Index/HDI) di Indonesia juga rendah. Tentu saja ini merupakan berita yang menyedihkan bagi Negara berkembang yang ingin maju.

Untuk itu penulis memiliki beberapa program solusi yang layak dijalankan dalam meningkatkan daya baca masyarakat Indonesia sehingga akan terbentuk budaya literasi yaitu :

  1. Memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan. Hal ini dilakukan agar bisa mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi.
  2. Memperbanyak perpustakaan di semua daerah. Hal ini dilakukan sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, jumlah koleksi buku yang banyak, dan menawarkan kegiatan yang menarik.
  3. Dibutuhkan program berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk lebih memperkenalkan buku dan mendorong minat baca buku ke sekolah serta masyarakat umum.
  4. Mendorong bagi penerbit buku. Hal ini dilakukan agar semakin banyak buku diterbitkan, terutama buku-buku yang berkualitas dari berbagai bidang.
  5. Mendukung kekuatan masyarakat madani. Hal ini dilakukan kerjasama antara pemerintah dan semua pihak dalam membangun peradaban membaca buku.
  6. Merangkul para aktivis media sosial. Hal ini dilakukan untuk lebih sering mengunggah rangsangan membaca buku. Selain itu diharapkan membaca tidak lagi terpaku pada membaca kertas karena segala informasi terkini telah tersedia di dunia maya/internet dan media elektronik lainnya.

Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis-menulis.

PENUTUP

Minat membaca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa. Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Belajar selalu identik dengan kegiatan membaca karena dengan membaca akan bertambahnya pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang. Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena pengangguran intelektual tidak akan terjadi apabila masyarakat memiliki semangat membaca yang membara. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan, maka semakin tinggi kualitasnya. Kualitas suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi.

  • Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Teknik Listrik Politeknik Negeri Madiun. Tulisan ini sendiri merupakan pemenang ketiga dari lomba esai HUT44Keadilan. Ide dan substansi yang dipaparkan dalam tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here