Categories Berita

Dari Aksi “ Penggantungan” Hingga “Penyantetan” Apakah Ini Merupakan Peringatan Keras Terhadap Prabowo-Gibran? 

“Sejumlah mahasiswa FIB UGM menggelar aksi ruwatan untuk menyampaikan kritik keras kepada pemerintahan Prabowo-Gibran. Mengambil momentum mistis malam Jumat Kliwon (11/6), mereka menggelar aksi teaterikal “Ruwatan FIB Merah” sebagai simbol penyucian sekaligus harapan bagi masa depan Indonesia.”

YOGYAKARTA-KEADILAN Kamis (11/6) Setelah aksi simbolik “Prabowo-Gibran digantung“ yang sempat menyita perhatian publik, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) kembali menggelar aksi teatrikal bertajuk “Ruwatan FIB Merah” pada malam Jumat Kliwon. Melalui pendekatan budaya, mahasiswa menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang mereka nilai tengah dihadapi Indonesia.

Aksi teatrikal tersebut menambah ragam bentuk ekspresi mahasiswa dalam menyampaikan kritik sosial. Jika sebelumnya aksi simbolik dilakukan melalui penggantungan boneka kepala negara, kali ini mahasiswa memilih pendekatan ritual budaya yaitu ruwatan sebagai medium penyampaian aspirasi dan refleksi atas kondisi Indonesia. Menurut Jack, salah satu mahasiswa FIB, ruwatan dipilih sebagai simbol penyucian sekaligus harapan bagi masa depan Indonesia 

“Ruwatan adalah sebuah ritual untuk penyucian dan kebaikan kedepannya. Melalui ruwatan ini kami ingin meruwat Indonesia,” ujarnya. 

Pemilihan malam Jumat Kliwon bukan tanpa alasan. Menurutnya, malam tersebut dipilih karena memiliki makna spiritual dan kekuatan magis yang sangat tinggi dibanding malam-malam yang lain. Malam Jumat Kliwon dipilih sebagai salah satu medium simbolik untuk menyampaikan doa dan harapan bagi kondisi bangsa. 

“Kami ingin  menembus jalur langit melalui semua kepercayaan setiap teman-teman yang hadir di sini. Ini bukan hanya soal satu kepercayaan tertentu, tetapi menjadi ruang bersama untuk memanjatkan harapan,” tambahnya.

Naya, pemeran utama aksi teatrikal, menjelaskan bahwa pertunjukan aksi teatrikal santet merupakan bentuk ekspresi simbolik yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menafsirkan makna sesuai sudut pandang masing-masing.  Pemilihan malam Jumat Kliwon juga dinilai memiliki makna tersendiri. Menurutnya, momentum tersebut dianggap tepat sebagai ruang refleksi di tengah situasi yang menurutnya dipenuhi berbagai persoalan. 

“Tujuan utamanya sebenarnya memang menyantet, tetapi secara filosofis kembali lagi kepada bagaimana orang menafsirkannya,” ujar Naya.

Pertunjukan tersebut berangkat dari kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang terjadi selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menegaskan bahwa seluruh konsep pertunjukan, properti, dan instalasi disusun secara kolektif oleh para peserta aksi.

“Sebenarnya ini bukan semata-mata kritik untuk Prabowo sebagai pribadi, tetapi terhadap berbagai hal yang terjadi ketika beliau menjabat. Contoh paling sederhana bagaimana alam dirusak, campur tangan negara dalam urusan makan, urusan perniagaan sederhana, hingga perhatian terhadap pendidikan yang menurut kami justru belum menjadi prioritas,”tambahnya. 

Jack menambahkan bahwa mahasiswa FIB sengaja memilih pendekatan kebudayaan sebagai medium penyampaian kritik sosial.  Demonstrasi tidak hanya melulu tentang orasi-orasi di jalan saja, namun juga dapat diwujudkan dalam acara-acara kebudayaan atau ritual-ritual kebudayaan.

“Teman-teman lain sudah menyampaikan aspirasi lewat orasi dan demonstrasi jalanan. Kami mencoba mengisi ruang yang lain melalui aksi kebudayaan. Nilai-nilai budaya tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata,” jelas jack .

Lebih lanjut, jack berharap kampus-kampus lain turut menjaga semangat kritik terhadap kondisi bangsa dengan bentuk aksi yang sesuai karakter masing-masing.

“Silakan setiap kampus merancang aksi simboliknya sendiri. Yang terpenting, api perlawanan jangan sampai padam. Indonesia sedang menghadapi banyak persoalan, dan kampus tidak boleh memilih diam,” tuturnya.

Sementara itu, menanggapi aksi teatrikal yang digelar mahasiswa, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM menyatakan bahwa mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa. Menurutnya, selama dilakukan secara bertanggung jawab dan memahami batasan-batasan yang berlaku, ekspresi tersebut merupakan hal yang sah dalam kehidupan demokrasi.

“Kalau saya, sebagai mahasiswa, apa yang kalian lakukan ini bagus karena menunjukkan kepedulian terhadap negara. Itu bentuk ekspresi kalian. Yang penting bertanggung jawab dan tahu batas-batasnya. Memang harus ada yang menyuarakan apabila ada hal yang dianggap tidak baik. Menyuarakan pendapat itu boleh dan sah-sah saja,” ujarnya.

Liputan bersama: Dzaky Alfakhri, Sabri Khatami Tjan, Nanda Oktaviani, Nadia Talitha Ivanadentrio, Kanza Sartika, Nifa Mutia Cahyani, Farhan Sulthan Hakim, dan Bernadito Hugo Naufal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *