Categories Berita

Prabowo-Gibran “Digantung” di UGM, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

“Boneka simbolik Prabowo- Gibran tergantung hingga terbakar pada aksi mahasiswa UGM. Dibalik adegan itu, terdapat kepedulian mahasiswa kepada persoalan nasional dan juga kritik terhadap kebijakan pemerintah”

Yogyakarta-KEADILAN Minggu 7 juni 2026 di bundaran UGM, Diselenggarakan aksi unik dan penuh simbolisme mewarnai kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) saat Aliansi Mahasiswa UGM menggelar demonstrasi yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam aksi tersebut, massa menampilkan prosesi teatrikal berupa penggantungan, pengarakan pemakaman, hingga kremasi atau pembakaran simbolik sebuah boneka yang mereka sebut sebagai simbol “hati nurani Prabowo-Gibran”.

Aksi itu sontak menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat yang melintas. Banyak yang penasaran dengan makna di balik prosesi yang tidak biasa tersebut.

Salah satu perwakilan Aliansi Mahasiswa UGM menjelaskan bahwa aksi tersebut lahir dari keresahan kolektif mahasiswa terhadap berbagai isu nasional yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

“Awalnya kami hanya berdiskusi di tongkrongan, saling bertukar pikiran mengenai situasi yang sedang terjadi. Dari situ muncul gagasan untuk merespons kondisi yang ada sebelum semuanya semakin jauh berkembang,” ujarnya saat diwawancarai.

Menurutnya, tema utama yang diangkat dalam aksi tersebut adalah “pemakaman hati nurani Prabowo-Gibran.” Mahasiswa menilai sejumlah kebijakan pemerintah saat ini belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara luas.

Dalam aksi tersebut terdapat tiga tahapan prosesi simbolik yang diperagakan massa. Tahap pertama adalah penggantungan boneka. Menurut mahasiswa, simbol tersebut menggambarkan penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan rakyat akibat berbagai persoalan yang terjadi saat ini.

Setelah itu, boneka dibawa ke prosesi pemakaman sebagai simbol matinya hati nurani. Namun dalam narasi aksi tersebut, tanah digambarkan menolak menerima jasad tersebut.

“Tanah menolak karena dianggap terlalu busuk. Maka satu-satunya cara yang tersisa adalah kremasi,” kata salah satu peserta aksi.

Tahap terakhir adalah kremasi atau pembakaran simbolik. Abu hasil kremasi kemudian ditempatkan pada ompreng yang menjadi simbol salah satu kebijakan pemerintah yaitu makan bergizi gratis. sebagai bentuk kritik terhadap sejumlah kebijakan prioritas nasional yang dinilai belum memberikan hasil sesuai harapan masyarakat.

Mahasiswa menjelaskan bahwa konsep aksi tersebut tidak berasal dari satu individu, melainkan hasil diskusi bersama yang dilakukan dalam berbagai pertemuan informal.

“Ada yang mengusulkan batu nisan, ada yang mengusulkan pembakaran simbolik. Akhirnya kami menyusun semuanya menjadi satu alur cerita, mulai dari digantung, dikubur, lalu dikremasi,” jelasnya.

Mereka menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan hasil kerja kolektif mahasiswa dari berbagai fakultas dan organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM.

Mahasiswa UGM lainnya, Marco dari Fakultas Filsafat, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk keresahan kolektif terhadap perkembangan situasi nasional.

“Ini murni gerakan organik dari mahasiswa UGM. Kami membaca, mendengar, dan mengkaji berbagai isu yang berkembang. Isu-isu tersebut tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi juga berdampak langsung kepada masyarakat,” katanya.

Menurut Marco, berbagai simbol yang ditampilkan dalam aksi merupakan bentuk kreativitas mahasiswa dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah.

“Boneka yang digantung, pembakaran, sampai simbol program pemerintah yang ditampilkan, semuanya merupakan bentuk ekspresi visual atas kritik yang ingin disampaikan,” ujarnya.

Selain menyampaikan kritik terhadap pemerintah, massa aksi juga mengajak mahasiswa untuk lebih peduli terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang di masyarakat.

Marco menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengkaji dan mengkritisi kebijakan publik yang dinilai bermasalah.

“Kita sebagai kaum muda masih memiliki energi, waktu, dan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Karena itu, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin dan jangan berhenti peduli terhadap persoalan yang ada di sekitar kita,” tutupnya.

Aksi teatrikal tersebut berlangsung damai dan menjadi salah satu bentuk ekspresi politik mahasiswa yang menarik perhatian publik. Melalui simbol-simbol yang ditampilkan, mahasiswa berharap pesan kritik yang mereka sampaikan dapat memicu diskusi yang lebih luas mengenai berbagai kebijakan yang tengah menjadi perhatian masyarakat.

Liputan Bersama: Dzaki Alfakhri dan Nadia Talitha Ivanadentrio

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *