Tangisan Kala Hujan

0
http://lpmkeadilan.org/wp-content/uploads/2019/05/Untitled-1-01-copy-e1556790025704.jpg

Tak berpengalaman…

kejam…

tetapi…

 

tetaplah terlihat indah.

 

 

Déjà vu.                                                                      

Apa yang membuatmu tak puas?

Padahal kamu berbicara dengan egoisnya

Apalagi yang kamu inginkan?

Mungkin ini akan berhasil, jika berbicara harta, tahta, dan kata-kata.

 

 

Sudahlah…

Aku muak dengan kata-kata itu
aku tak mau melakukannya setengah-setengah,
jika hanya bermain itu mudah.

Meski begitu,
bukan berarti aku membencimu.

 

 

Cukup.

Aku sudah mendengarnya.

Dari kupu-kupu merah di tengah hujan

Kata-kata sulit yang hina itu.

Mau berapa kali kau ucapkan?

 

 

Baca suasananya.

Jangan biarkan hujan turun.

Kata-kata tabu yang membuatmu angkat kaki,
aku tetap berharap dalam permainan tak adil ini.

 

 

Percakapan ini, aku tak menyukainya
mereka melihat kita.

Kau terus menggenggamku tapi kau pergi.

Di tengah hujan yang tak berhenti.

 

 

Kau menginginkan payung bukan?

Agar benar tindakanmu.

Surat yang tak tersampaikan.

Tak berbekaskah malam-malam itu bagimu?

 

 

Jika kau memang ragu, pergilah dariku.

Hal-hal penting yang tak mau kau dengar
hanya membuatmu merasa aman
tatkala hujan yang manis turun.

Kau menginginkan payung bukan?

 

 

Copy, paste, delete.

Begitulah aku, lewat sajak ini.

Ini bukan punyaku.

Tapi kau pun demikian, bukan?

Membuka dan menjamah jati diriku.

Biar pujian dan sorakan diberikan padamu.

 

 

Kau pasti juga menginginkan payung bukan?

Aku ingin amnesia, aku ingin buta, aku ingin tuli.

Tapi tidak bisa.

Tidak, aku tak  boleh lumpuh.

Sedangkan kau di sana dengan gadis lain bermantel hijau
tertawa bahagia berdua.

Sekarang hujan janganlah berhenti.

 

 

Sekarang?

Tarik napas,
pejamkan,
lepaskan.

 

 

Makanya, meski begitu rasanya amat sakit di sini,
sudah cukup, begini, begitu, katamu.

Kau mencintaiku, tapi kenapa?

Biarlah hujan tetap turun menyapu siluetmu.

Kurelakan payung hitamku untukmu.

Sedangkan hujan mengguyur kepala sampai telapak kecil ini.

Setidaknya kau tak akan pernah tahu, air apa yang menitik.

 

 

Sudahlah.

Aku muak dengan heningmu.

Izinkan kucengkeram kerahmu dan biarkan aku meneriakkannya sekali saja…

 

 

*Terinspirasi dari karya Minami, yang secara ajaib menggambarkan keindahan demokrasi di kampus tercinta kami.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here