Categories Lensa

Nyaring Pukulan Panci: Suara Ibu-Ibu Minta Stop Program MBG

Sore itu, Selasa, 8 September 2026, sekitar pukul 15.00 WIB, bunyi nyaring dentang panci dan sutil beradu memecah riuk lalu lintas Tugu Golong Gilig. Puluhan ibu berkumpul dalam aksi “Jalan Sore Pukul Panci”, mengubah alat dapur sederhana menjadi simbol perlawanan atas program MBG yang dinilai mengorbankan warga. Bunyi nyaring tersebut menjadi peringatan nyaring atas rentetan kebijakan pemerintah yang dinilai mengorbankan keselamatan warga.

Para peserta membawa pesan mengenai kondisi bencana alam yang dinilai masih belum tertangani karena keterbatasan anggaran. Di sisi lain, mereka menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus didorong pelaksanaannya oleh pemerintah. Aksi tersebut juga menyinggung kasus dugaan korupsi yang disebut telah merugikan lebih dari 43.000 orang, namun belum ada pihak yang dinyatakan bersalah. Persoalan tersebut menjadi salah satu latar belakang keresahan yang disuarakan dalam aksi.

Dengan mengenakan pakaian olahraga dan membawa panci serta bekal, para peserta mengikuti aksi dengan penuh antusias. Panci yang dibawa menjadi simbol utama aksi sekaligus sarana untuk menyampaikan suara mereka. Berdasarkan informasi aksi, kegiatan berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 17.30 WIB, dengan titik awal di Tugu Golong Gilig dan berakhir di Bundaran UGM. 

Sejumlah polisi tampak berjaga dan mengamankan lokasi serta mengatur lalu lintas di sekitar kawasan tersebut. Meskipun demikian, para peserta tetap menyampaikan aspirasi dengan antusias dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM).

Melalui “Jalan Sore Pukul Panci”, para ibu tersebut tidak hanya menyampaikan kritik terhadap program MBG, tetapi juga membawa berbagai persoalan yang mereka anggap bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Dari persoalan anggaran, UMKM, harga bahan pokok, hingga pendidikan anak berkebutuhan khusus, aksi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keresahan sekaligus menuntut agar kebijakan pemerintah lebih memperhatikan kondisi masyarakat di lapangan.

Setibanya di Bundaran UGM, orasi demi orasi mulai pecah. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyuarakan pukulan berat yang mereka rasakan.

“Anak diberi makan beracun, orang tua yang UMKM mata pencaharian kehidupannya dibunuh pelan-pelan,” seru seorang peserta aksi. 

Bagi mereka, lonjakan harga bahan pokok dan pengalihan fokus ekonomi telah mematikan usaha kecil mereka secara perlahan. Harga bahan pokok naik tidak hanya karena program MBG, namun karena kebijakan yang amburadul serta pemerintah yang inkompeten. 

Keresahan tidak hanya datang dari urusan dapur. Seorang ibu dari anak berkebutuhan khusus (ABK) turut membagikan kenyataan pahit yang ia hadapi. Efisiensi anggaran yang dialihkan ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) memangkas drastis ketersediaan Guru Pendidikan Khusus (GPK) di Yogyakarta—dari yang semula berjumlah sekitar 180-an, kini merosot hingga menyisakan 67 guru terdaftar. Pemangkasan ini mengancam hak pendampingan dan masa depan anak-anak ABK.

Dalam siaran persnya, massa aksi menegaskan tiga tuntuta utama: 

  1. Menghentikan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan alihkan dana untuk mitigasi serta penanganan bencana hingga tuntas.  
  2. Menghentikan segala bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat sipil.  
  3. Menghentikan upaya membenturkan konflik horizontal sebagai alat meredam protes masyarakat dan memecah solidaritas rakyat. 

Kalis Mardiasih, perwakilan Suara Ibu Indonesia menegaskan, 

“stop dan evaluasi total. Stop dulu, baru evaluasi total. Tidak evaluasi sedikit-sedikit, tapi keracunan anak-anak tetap berjalan.” 

Aksi ditutup dengan ketukan panci bersama sebagai simbol peringatan darurat bagi pemerintah. Dua pemuka agama lintas iman memimpin doa bersama di tengah kerumunan, dengan harapan dapat mengetuk pintu langit demi kebaikan Indonesia.  Suasana haru itu dimungkas oleh alunan “Kenduri Suara Ibu Berisik” memungkas perjuangan sore itu dengan ketukan solidaritas yang masih bergema. 

Fotografer : Nadia Talitha Ivanadentrio

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *