Child’s Story: Kritik Sosial Terhadap Kondisi Imigran yang Memprihatinkan

0
http://lpmkeadilan.org/wp-content/uploads/2018/05/Foto-Fix.jpg
Teater Child's Story yang diselenggarakan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 27-29 April.

Yogyakarta-Keadilan. Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) yang bertempat di Desa Kembaran, Bantul, kembali menggelar pertunjukan seni berupa teater. Seperti biasanya, padepokan ini bekerjasama dengan sanggar-sanggar seni yang ingin mementaskan hasil karyanya. Kali ini, PSBK bekerja sama dengan Papermoon Puppet Theatre dari Indonesia dan Polyglot Theatre Australia. Pertunjukan yang bersifat berlanjut ini dipentaskan pada 27-29 April 2018.

Pertama kali masuk di area PSBK,  pengunjung diminta untuk registrasi terlebih dahulu. Pengunjung terbagi menjadi dua, penumpang dan penonton. Penumpang adalah anak-anak yang ditemani beberapa orang tua, sedangkan masyarakat umum masuk ke dalam kategori penonton. Pintu masuk bagi penumpang yang nantinya akan tampil dalam pertunjukan dibedakan dengan penonton.

Sebelum mereka tampil, diawali dengan workshop di belakang panggung. Ketika anak-anak sebagai penumpang sedang di-workshop, pengunjung sebagai penonton dipersilakan masuk. Panggung ditata dengan menggunakan kelambu, sehingga para penumpang yang berperan dalam teater tidak tahu  bahwa mereka sedang ditonton banyak orang. Inilah yang membuat teater ini berbeda dari pertunjukan-pertunjukan lainnya.

Sebelumnya, penonton dihimbau untuk tidak menimbulkan suara agar para penumpang kapal tidak terganggu. Pertunjukan dimulai dari perjalanan kapal nelayan di laut lepas dengan latar langit cerah dan penumpang bermain di atasnya. Sampai pada suatu ketika, kapal tersebut terkena badai dan diombang-ambingkan oleh ombak ganas di laut lepas.

Ombak ganas tersebut digambarkan dengan sebuah karpet yang digerakkan hingga menyerupai gelombang air laut. Sedangkan kondisi badai sendiri digambarkan melalui perubahan cuaca dari cerah menjadi mencekam, dengan bantuan efek suara dan pencahayaan panggung.  Anak-anak yang berada di kapal  pun terbawa oleh suasana mencekam dan akhirnya teriak histeris. Pertunjukan diakhiri dengan terdamparnya Penumpang Kapal di Australia.

Teater yang dibawakan oleh dua sanggar teater ini berjudul Child’s Story. Pertunjukan ini terinspirasi dari kisah lama yang terpendam, di sebuah kota pelabuhan dan desa nelayan di Lasem. Tentang orang yang menghindar dari marabahaya dan dikolaborasikan dengan isu imigran saat ini. Menariknya adalah  pertunjukan ini ingin melihat tanggapan anak-anak jika mengalami hal semacam itu, sehingga mereka turut dilibatkan dalam teater ini. Metode pertunjukan seperti ini baru pertama kali dilakukan oleh Papermoon Puppet Theatre dan Polyglot Theatre. Sebelumnya, pementasan yang pernah dilakukan di Australia sebanyak dua kali tidak melibatkan penonton yang menyaksikan.

“Keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan tidak diawali dengan latihan. Semua berjalan secara spontan,  mengandalkan efek pencahayaan panggung dan suara untuk menggali ekspresi anak-anak sebagai Penumpang Kapal.,”  jelas Sue Gilles sebagai sutradara teater ketika ditanya perihal bagaimana mengatur anak-anak dalam pertunjukan ini. Sehingga seluruh emosi anak-anak yang ditampilkan murni karena suasana dalam panggung.

Ada pesan mendalam pada cerita ini, yaitu keresahan akan tak acuhnya masyarakat sekarang yang tidak ramah pada imigran pencari suaka asal negara konflik. Sutradara mencoba menyadarkan penonton lewat cerita ini, dengan menggunakan anak-anak sebagai media. Anak-anak menggambarkan masyarakat yang sesungguhnya, keceriaan ketika kehidupan mereka tidak terusik, dan ketakutan saat bahaya datang. Ditambah tidak adanya akting yang dibuat-buat, sehingga menghasilkan ekspresi nyata terhadap tanggapan suatu keadaan.

Menurut pengalaman sutradara selama mementaskan di Indonesia dan Australia, terdapat reaksi yang berbeda dari para penumpang. Di Indonesia, ketika badai sudah berakhir, penumpang merasa gembira, karena sudah selamat dari keadaan bahaya. Sedangkan di Australia sendiri, setelah kapal selamat dari badai dan terdampar di tempat asing, banyak dari penumpang yang menangis.

 Reaksi berbeda tersebut merupakan hal yang mendasar, di Indonesia orang asing dianggap biasa saja. Tidak ada ketakutan dari penduduk lokal terhadap orang asing karena memang keadaan Indonesia sendiri sangat berwarna budayanya. Tetapi, di Australia mereka menganggap cerita yang dibawakan oleh sanggar Polyglot Theatre terkait isu terhadap kapal ini secara sensitif, karena pencari suaka diperlakukan dengan buruk di sana. Terlebih bagi masyarakat Australia, kapal merupakan pelambangan dari datangnya pencari suaka.

Tetapi ada kekurangan dalam acara saat itu, yaitu bermasalahnya sound system ketika memperlihatkan adegan penumpang sedang bermain di atas kapal. Sehingga membuat penumpang berkutat pada adegan tersebut cukup lama. Kemudian ada keterbatasan komunikasi saat narasi cerita disampaikan dengan bahasa Inggris, sehingga banyak penumpang dan penonton yang gagal menangkap pesan dalam adegan tersebut.

Secara keseluruhan acara ini cukup mengedukasi para penonton untuk melihat suatu isu yang sedang berkembang saat ini. Penyadaran terhadap permasalahan aktual tidak melulu hanya bisa dilakukan melalui membaca buku atau aksi turun ke jalan, tetapi juga dapat dikemas dengan seni teater. Teater ini memberikan nafas segar terhadap hiburan anak-anak yang saat ini sepi sekali. Bahkan, PSBK sendiri baru pertama kali mengadakan teater untuk anak-anak.

Rencananya, teater ini akan dipertunjukan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Di  sana sendiri isu imigran sedang banyak diperbincangkan, terlebih dengan adanya kebijakan Presiden Donald Trump yang melarang imigran dari negara konflik untuk masuk ke Amerika Serikat.

Reportase bersama: Aldhyansah Dodhy, Aha Azadi, Topik Rahman

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here