Siluet

0
http://lpmkeadilan.org/wp-content/uploads/2017/12/cerpen-fix-nihh-e1514573557127.jpg

“Bangsat!”

Kakiku tersandung akar licin, membuat terperosok ke lumpur. Sementara Benny, Chiko, dan Browny, masih mengejar sergapan. Tanpa memedulikan tuannya yang terjatuh payah.

Wuk! Wuk!” Anjing-anjingku berlari mantap mengejar buruan kami.

“Bagus! Terus kejar!” Aku bangkit kembali dan lanjut berlari. Selagi berlari, petir-petir terus menyambar, dan deras hujan membuat perburuanku semakin menyusahkan.

Buruan kami kali ini sangat gesit. Sebelumnya, aku memang dimintai langsung oleh pak kepala desa untuk memburu celeng ini. Bagaimana tidak, celeng iblis ini sudah merusak ladang warga dan mencuri hasil kebun. Lebih buruk lagi, si celeng kini berani masuk pemukiman dan mencoba menyerang orang-orang.

“Dor!…Dor!”

Sial, tembakanku masih meleset. Si celeng dengan gesitnya menghindari tembakan. Basah baju juga memperlambat gerakku. Biasanya tidak sampai lima menit celeng yang sudah tertangkap penglihatanku tak akan bisa kabur hidup-hidup. Hari ini entah kenapa, perburuan terasa berat. Aku ingin cepat menyelesaikan perburuan ini dan segera mengambil imbalannya.

Aku sudah tidak mendengar gonggongan anjing-anjingku lagi. Aku memperlambat lari, sepertinya rencanaku berhasil. Anjing-anjingku sukses memojokkan celeng itu ke ujung dinding tebing gunung karst. Mereka sudah siaga menghadang kalau-kalau si celeng mencoba kabur kembali. Tapi anehnya, mengapa mereka hanya menggeram saja. Kupercepat lari mendekati lokasi.

Aku tertegun, celeng dengan ukuran sebesar anak sapi sedang menggeram marah di depan kami. Aku terkejut ukuran buruan kami akan sebesar ini. Mata merahnya, taring tajam mengkilat, serta bekas luka-luka di kulitnya, cukup menjelaskan bahwa hewan ini sudah pernah menghadapi hal yang lebih dari sekadar tiga anjing dewasaku.

Cklak!, aku mengokang senapan dengan mantap. Sini brengsek, lawan sesungguhnya adalah diriku. Hembusan angin semakin kencang. Hujanpun sepertinya meruncing menubruk apapun di bawahnya. Sambaran kilat menyaingi suara tembakan senapanku.

“Nguooooookkkk!!!” Auman buas si celeng melolong. Ternyata tembakanku tidak melukainya. Auman ungkapan kebencian tak berakal kembali meraung. Kakinya menderu-deru, celeng itu menghampiriku.

Mari hadapi aku, Muslim si pemburu celeng.

***

Aku memperbaiki posisi. Meskipun terjatuh, setidaknya aku berhasil menghindari serudukan si celeng sialan itu. Hanya saja satu anjingku terpental, terkena serudukannya. Ia merintih kesakitan, aku dapat melihat luka akibat serudukan. Browny yang malang. Si celeng terperosok kesemak-semak, namun dalam waktu singkat kembali berbalik badan ke arahku.

Sial, kini aku yang dibuat terpojok. Dua anjingku masih menyalak dengan ganas, tidak terima temannya dikalahkan. Celeng menggaruk-garuk tanah bersiap kembali untuk meluncur. Aku mengokang kembali senapan, membidik ke arah kepalanya. Celeng itu kembali melancarkan aksinya, dengan penuh nafsu amarah menerebos semak-semak ke arahku. Tembakan demi tembakan aku arahkan ke celeng itu, namun hanya menggores kulitnya.

Peluruku sudah habis, persediaan yang lain terjatuh saat harus menghindari serudukan si celeng. Kini ia tinggal beberapa meter di depanku. Kubalik pegangan senapan, untuk kugunakan sebagai pemukul. Harusnya benda tumpul ini cukup untuk melukainya. Celeng itu tidak menggentarkanku, aku sudah sering menghadapi hal yang lebih buruk dari ini. 10 tahun berburu, hutan ini sudah membentuk keberanianku. Aku mengambil kuda-kuda, merekatkan pegangan senapan. “Kemarilah!!!”

Celeng tepat di depanku. Senapan kuayunkan kuat-kuat seperti saat bermain kasti. Dagunya  terkena punggung senapanku cukup keras. Namun licinnya tanah tidak aku antisipasi, sehingga membuat keseimbangan badanku saat menghindar menjadi goyah dan terjatuh. Betapa tidak beruntungnya aku, karena terjatuh tepat di bawah kaki si celeng yang sedang bergerak liar kesakitan. Ia mengayunkan kaki mengenai kepalaku, yang dengan telak menghantam tanah. Kuku kakinya menggores pelipisku.

Walaupun pandanganku kabur tapi aku tetap bisa melihat si celeng kesakitan. Mungkin merasa takut, celeng tersebut lari masuk jauh ke dalam hutan. Sial pikirku, perburuan kali ini gagal. Aku tergeletak lemas, dua anjingku menghampiri dan menjilati pipiku. Penglihatan semakin kabur, kepalaku melayang-layang, kesadaran berangsur menghilang. Suara hujan dan gonggongan anjingku menjadi senyap.

***

Aku tidak tahu telah tertidur berapa lama. Hanya saja, semenjak kejadian itu aku terbangun di sebuah ruangan, yang semua orangnya berpakaian putih. Kamar-kamarnya seperti rumah sakit. Tapi aku tidak melihat ada orang yang sakit. Terdapat banyak kamar berterali seperti kurungan di penjara, tapi aku tidak melihat ada penjahat. Semua orang kutanyai tidak ada yang menjawab. Semuanya acuh. Semuanya menunduk lesu. Semua sibuk dengan dunianya sendiri.

Jendela-jendela diletakkan di dinding yang tinggi sehingga aku tidak dapat menerka dunia luar. Berhari-hari aku kebingungan, semuanya tetap sama, masih diacuhkan. Hanya saja anehnya, selalu ada orang yang menggantikan bajuku, memberikan makanan secara gratis, dan setia menayangkan siaran bola favoritku. Aku benar-benar tak tahu ada di mana.

Berhari-hari kuhabiskan untuk melamun saja. Sampai suatu ketika ada seseorang yang menyapa saat aku sedang di kamar mandi. Menggelikan memang, tapi anehnya aku malah senang karena akhirnya ada seseorang yang mau mengajakku berkomunikasi. Setelah berkenalan ternyata laki-laki itu bernama Yunus. Dia juga tidak tau kita sedang berada di mana. Yunus sependapat denganku tentang tempat ini.

Semuanya di sini cukup aneh, mulai dari tempat hingga orang-orangnya. Sempat kami berpikir untuk mencoba kabur, hanya saja ruang gerak kami sangat dibatasi di sini. Sehingga tidak dapat mempelajari gedung ini. Bahkan pintu keluarnya pun tidak terlihat. Akhirnya hari-hari kami dihabiskan dengan bersenda gurau saja. Aku bercerita tentang tempat tinggalku yang masih sangat pedalaman. Anjing-anjingku yang luar biasa tangguh dan setia, juga luka di kepala akibat gagalnya suatu perburuan.

Ternyata Yunus dulunya adalah seorang polisi di Malang. Lulusan Akpol yang kurang beruntung karena harus berakhir di tempat seperti ini. Suatu ketika aku sempat iseng bertanya kepada Yunus.

Boy…”

Hmm?”

“Aku boleh tanya?”

Opo?”

Iki lo,” aku menunjuk luka di sebelah kiri kepalanya. Karena persis seperti milikku, hanya saja letaknya yang berbeda.

“Oh, panjang ceritanya, ini akibat dari misi terakhirku waktu masih ‘anggota’ dulu. Ini juga yang menyebabkan aku dibebastugaskan.”

Aku menyimak.

***

“Pak Yunus, saya sudah menemukan titik tempat Kurnia menjual obat-obatnya,” anak buahku, Riko melapor.

“Kalau cuma titik lokasi penjualan, itu kamu saja yang menyergap. Saya tidak mau membuang-buang waktu. Kamu tahu sendiri fokus saya sekarang bukan itu.”

Akhir-akhir ini banyak aduan dari masyarakat, bahwa mereka menemukan beberapa pemuda-pemudi di wilayah kekuasaanku mengonsumsi pil PCC. Lebih parah lagi pil itu dibagikan secara gratis! Unitku sering mendapatkan teguran dari pusat, yang memandang kinerja kami kurang tanggap dalam menangani pil murahan itu.

Bukannya apa, hanya saja aku merasa ada sesuatu yang besar ditutupi di sini. Seperti ada yang mencoba mengalihkan fokus polisi melalui kasus pil PCC ini. Karena  sebelumnya kami ditugaskan untuk menangkap seorang dalang besar dunia obat-obatan terlarang bernama Haris Lee. Namun anehnya, nama sialan itu mendadak dihilangkan dari target incaran kami. Akhirnya kami malah dipusingkan oleh pil murahan ini.

 “Kamu tetap fokus mencari Haris Lee. Kalau kamu menemukan hal-hal yang berkaitan dengannya hubungi segera, saya harus pulang dulu.”

***

“Assalamualaikum,” aku membuka pintu rumah dengan perlahan.

“Waalaikumsalam mas,” istriku keluar kamar menyambut.

Loh Rahma, kamu kok belum tidur? Gimana cek kandungannya? Apa kata dokter tadi? Maaf mas enggak bisa nemenin,” kudekap istriku.

Ndakpapa mas, wong ditemani ibu kok. Beliau titip salam. Katanya mbok kamu itu istrinya hamil sudah delapan bulan jangan sibuk-sibuk, apalagi ini anak pertama.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya, kujawab aja kan Mas Yunus mengemban tanggung jawab keamanan masyarakat. Ada kejahatan besar yang mau diungkap.”

Haha dasar kamu”. Aku menjiwit pipinya.

“Kata dokter tadi kayaknya anak kita bakalan cewek mas.”

“Oh ya? Alhamdulillah berarti kamu yang ngasih nama.

Hmm, nanti aja kita rembukin lagi. Oh iya, itu ada tempe goreng sama sayur sop mas.”

“Siap!” Aku bergegas ke ruang makan.

Takut dia khawatir, aku sengaja tidak cerita perihal kasus yang sedang kuselidiki. Kusantap masakannya perlahan. Aaaah, terbaik memang makanan rumah. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata dari Riko.

“Halo, ada apa?”

“Maaf pak kami sudah dapat laporan dari tim IT. Bahwa dari hasil sadapan mereka, berhasil diketahui bahwa akan ada transaksi besar narkoba yang melibatkan Haris Lee sendiri.”

“Kamu yakin dengan itu? Di mana lokasinya?”

“Siap pak, ada di persimpangan kota lama. Saya mendengar sendiri rekamannya, sebaiknya kita segera menyergapnya pak.”

“Ya sudah, kamu panggil Riski, Brian, Yani, dan Aldi. Tidak perlu kelompok besar, kita lakukan secara rahasia.”

“Siap 86.”

“Saya meluncur ke kantor,” aku mematikan ponsel.

“Kamu mau pergi lagi ya?” tanya istriku memelas, memecah keheningan.

“Cuma sebentar kok, doakan berhasil ya.”

“Buat apa sih kamu bertindak sejauh ini?”

“Demi anak kita nanti, aku ingin menciptakan lingkungan yang aman untuk dia,” kukecup keningnya

“Kamu jangan ngerepotin ibumu loh nak,” kuelus perutnya.

“Ya sudah aku berangkat dulu, assalamualaikum”. Aku segera meninggalkannya.

***

Peluru pistol sudah terisi penuh. Rompi anti peluru telah kukenakan. Sepatu kuikatkan dengan kuat. Aku mengunci ruangan, memutar badan. Ternyata komandanku sudah berdiri di belakang.

“Yunus!” Bentaknya gahar. “Sudah saya bilang kamu tidak usah mengurusi Haris Lee!”

“Siap pak! Saya hanya akan berpatroli seperti biasa.”

“Kamu kira saya tidak tahu apa yang kamu rencanakan? Mau jadi pahlawan kamu?”

“Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai polisi pak.”

“Kewajiban kamu itu hanya mematuhi perintah saya!”

“Maaf pak saya undur diri dulu. Saya ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas dan kembali pulang. Tak enak meninggalkan istri yang sedang hamil,” aku melangkah pergi

Mukanya merah meradang.

“Kamu tidak tahu apa yang kamu hadapi Yunus! Saya peringatkan kamu!” Dirinya kembali membentak.

“Brengsek, siapa sih yang memberi tahu si bebal itu,” pikirku. Aku meninggalkannya yang masih berteriak. Langkahku yakin, Bismillah.

***

Bzzzt… Saya sudah diposisi.”

“Bagus Brian, tetap awasi gerak gerik yang mencurigakan.”

“Siap 86.”

Aku mematikan walkie talkie.

“Brian sudah di posisinya, mari kita berpencar. Menurut info yang kamu dapat, kemungkinan si Haris lee ini akan datang dari arah mana?”

Semua hening. Riko, Yani, Riski, serta Aldi, hanya diam menunduk. Mereka saling menatap.

Woi! Kalau ditanya itu jawab dong!”

“Maaf pak, Haris Lee tidak akan ke sini,” Yani menjawab.

“Maksud kamu?”

“Tim IT kita tidak menyadap apapun.”

“Jadi maksud kalian, ini semua hanya tipuan?”

Semua diam menunduk.

“Brengsek, dapat mobil apa kalian dari si bedebah itu!?” Seraya aku melangkah mendekati mereka.

Dorr!!!

“Aarghh!” Aku menoleh ke belakang. Sialan, ternyata Brian sudah membidikku. Aku lengah, namun mereka memilih penembak jitu yang payah. Tembakannya hanya menggores kepalaku, darah segar mengalir deras di pelipisku. Pandanganku mengabur. Riski mendekatiku, “Maaf pak”. Seraya  melayangkan tinjunya telak menghantam daguku. Tubuhku merebah ke tanah. Aku tersengal, usahaku selama ini ternyata sia-sia. Sepertinya orang-orang di kantor sudah disogok oleh Haris Lee. Bahkan satu-satunya anak buahku yang kupercaya kini juga berkhianat. Maaf Rahma, sepertinya aku terlambat pulang. Bayangannya kini melayang.

***

Woi Muslim!” Yunus menggoyang pundakku.

hmm,” jawabku lemah.

“Sialan, kupikir kamu melamun,” Yunus malah terpingkal.

“Menyesal aku bertanya tentang luka di kepalamu… Bahkan anjing-anjingku yang tak berakal saja tidak akan mengkhianatiku.”

“Ya begitulah, aku mendapatkan surat tidak lama setelah penempatanku di sini. Aku dibebastugaskan dari kesatuan, akibat luka dari sebuah misi yang kuterima. Dikatakan di surat itu aku menderita penyakit mental,” jawab Yunus lemah.

Tok..tok..tok, ada yang mengetuk pintu kamarku.

“Sebentar,” lirihku seraya membukakan pintu. Nampak laki-laki berpakaian serba putih tersenyum.

Loh tumben lagi sadar. Pasien Muslim Yunus, ada yang menjenguk.”

Yunus? Aku menoleh ke dalam, loh dia kabur kemana?

“Dari tadi asik ngobrol sama siapa sih? ayo ikut saya,” ajak laki-laki itu, aku mengikuti saja. Di sepanjang lorong aku berpikir, kenapa aku saja yang diajak? Padahal tadi dia bilang Muslim dan Yunus kan? Di ujung lorong nampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri sembari menggendong bayi.

“Nah, dia yang menjenguk kamu. Ya sudah, sana ngobrol sama dia,” laki-laki itu meninggalkan kami.

“Mas…” lirih si wanita yang langsung memelukku, dan menyandarkan kepala di dadaku. Aku terkejut.

“Iya? Kamu siapa ya? Kita pernah bertemu di mana? Maaf saya lupa.”

Si wanita menatapku, dia malah berkaca-kaca.

“Mas Yunus mau sampai kapan lupa sama Rahma, aku istrimu mas…”

“Namaku muslim, dan aku seorang pemburu celeng biasa, bukan suami siapapun,” jawabku masih bingung.

“Ini mas, anak kita sudah lahir. Ternyata benar kata dokter kalau dia perempuan,” air matanya menetes sembari menunjukkan anak bayi yang sedang dia gendong. Aku mencoba mengingat-ingat kembali. Sepertinya aku tidak begitu asing dengan wanita ini.

Loh kamu Rahma, istrinya Yunus!? Astaga, aku panggilkan dulu Yunus-nya ya. Maaf, kok malah aku yang dipanggil”. Aku meninggalkan dia ke dalam untuk mencari Yunus. Sembari melangkah, aku sedikit menoleh. Aku melihat Rahma pergi dengan bercucuran air mata. Hari ini aneh sekali kenapa orang tidak mencari Yunus saja kalau butuh dia, Aku kan Muslim!

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaKemelut Keadilan NYIA
Artikel BerikutnyaMenanti Boyongan Fakultas Hukum
Penulis pernah menjabat sebagai Pimpinan Bidang Pengkaderan Periode 2017-2018 dan Staf Bidang Pengkaderan LPM Keadilan Periode 2018-2019. Saat ini penulis telah menyelesaikan masa baktinya dari LPM Keadilan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here